Makna Dibalik Celeng
Makna celeng dalam lukisan Djoko Pekik
Djoko Pekik, seorang pelukis kelahiran Desa Karangrejo, Purwodadi, Grobogan,
melahirkan karya-karya seni lukis yang menyuguhkan simbol atau perlambangan dari
realita sosial yang terjadi di kehidupan bermasyarakat Indonesia. Sebagian besar
karyanya didominasi oleh 'celeng' atau babi hutan, yang diyakini oleh beliau merupakan
lambang keserakahan penguasa rezim orde baru. "Celeng itu serakahnya membabi buta,
perusak, kalau jalan enggak lurus dan sesuka hatinya, mentang-mentang dia raja", kata
Djoko Pekik.
Sang pelukis menuangkan pikiran akan tahap-tahap kejatuhan rezim Soeharto
secara berkelanjutan lewat trilogi celeng yang ia buat. Lukisan pertama Djoko Pekik
dalam trilogi celeng adalah lukisan Susu Raja Celeng (1996) yang mempunyai arti
bahwa pemerintahan pada waktu orde baru tidak bisa disentuh atau didekati oleh
rakyat. Disusul dengan lukisan Berburu Celeng (1998) yang mempunyai arti bahwa,
kejahatan pada pemerintahan orde baru tidak hilang begitu saja, melainkan muncul
yang lebih jahat di era reformasi dan ditutup dengan lukisan Tanpa Bunga dan Telegram
Duka dengan arti bahwa, seperti nama yang diberikan oleh si Djoko Pekik terhadap
lukisannya, itulah akhir bagi siapa saja yang pernah menyombongkan dirinya.
By : Andinny Gorantokan
Komentar
Posting Komentar