Timur Tengah
Sejarah Timur Tengah
Timur Tengah adalah wilayah yang meliputi Semenanjung Arab, Iran, bagian dari Afrika Utara, dan kadang-kadang wilayah lebih jauh. Sejarah istilah ini berkembang dari Timur Dekat yang diwakili oleh tiga wilayah: Timur Dekat, Timur Tengah, dan Timur Jauh. Istilah ini mulai populer sebelum Perang Dunia II dan diterapkan pada komando militer Inggris di Mesir. Definisi wilayah ini pada pertengahan abad ke-20 mencakup sejumlah negara di kawasan tersebut. Namun, seiring waktu, definisi tersebut bisa meluas. Kadang-kadang, Yunani juga dimasukkan dalam pengertian Timur Tengah karena sejarah pemberontakan mereka melawan Kekaisaran Ottoman. Terdapat juga asosiasi wilayah dengan istilah Levant, yang meliputi Turki, Yunani, dan wilayah di sekitar ujung timur Mediterania mayoritas penduduknya berbahasa Arab.
Permasalahan di Timur Tengah
Pada penghujung 2010 hingga 2011, Timur Tengah mengalami The Arab Spring, pemberontakan masyarakat melawan pemerintahan otoriter demi demokrasi. Ini mengakibatkan beberapa negara MENA mengalami transisi politik dan ekonomi, membentuk lingkungan strategis baru. Fenomena ini menyoroti negara GCC sebagai wilayah yang belum mengalami perubahan serupa. Konflik politik dan keamanan yang terus-menerus di kawasan tersebut juga mempengaruhi stabilitas internasional.
Negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi, Oman, UEA, Kuwait, dan Qatar, mengambil pendekatan yang berbeda dalam menghadapi potensi ketidakstabilan. Mereka membatasi izin tinggal pekerja dari negara-negara yang mengalami konflik, dan terlibat dalam intervensi militer di beberapa negara. Arab Saudi, sebagai monarki, khawatir terhadap dampak demokratisasi pasca Arab Spring terhadap stabilitas politiknya. Raja Abdullah memberikan bantuan ke negara-negara yang mengalami transisi politik, seperti Mesir, untuk mencegah pengaruh negatif. Saat pergolakan terjadi di Mesir, Arab Saudi memberikan bantuan keuangan dan minyak untuk mendukung stabilitas ekonomi, terbantu oleh dekatnya hubungan antara Raja Arab Saudi dan Abdel Fattah al-Sisi, pemimpin Dewan Militer Mesir.
Arab Saudi, sebuah monarki di Timur Tengah, mempertahankan sistem monarkinya ketika gelombang demokratisasi melanda melalui Arab Spring. Ketika terjadi penggulingan Presiden Mursi di Mesir oleh Dewan Militer, yang ditentang oleh beberapa negara, Arab Saudi secara agresif memberikan dukungan dengan bantuan ekonomi kepada Mesir dalam waktu singkat setelah penggulingannya. Hal ini menunjukkan posisi Saudi yang mendukung stabilitas dan kepentingan regionalnya.
Faktor penyebab terjadinya permasalahan
Konflik yang terus berkecamuk di Timur Tengah, menyoroti perbedaan ideologi yang memicu konflik internal di negara-negara seperti Suriah, Libya,irak, mesir, dan afganistan. Ideologi Barat seperti demokrasi tidak sesuai dengan nilai budaya dan politik di Timur Tengah yang cenderung lebih nyaman dengan rezim otokratik atau diktator. Meskipun demokrasi seringkali diterapkan di negara lain, sulit untuk diterapkan di Timur Tengah karena dinamika kompleks dari berbagai etnis, agama, dan kultur. Demokrasi hanyalah alat legitimasi kekuasaan bagi sebagian kelompok pro-Barat, seperti yang terbukti dalam sejarah konflik di beberapa negara Timur Tengah.
Di Timur Tengah dampak gabungan dari hambatan global, tantangan dalam negeri, dan risiko geopolitik membebani momentum perekonomian, dan prospeknya sangat tidak pasti. Pertumbuhan diperkirakan melambat tahun ini di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, didorong oleh rendahnya produksi minyak, ketatnya kebijakan di negara-negara emerging market dan berpendapatan menengah, konflik di Sudan, dan faktor spesifik negara lainnya. Di Kaukasus dan Asia Tengah, meskipun migrasi, perdagangan, dan arus masuk keuangan setelah perang Rusia di Ukraina terus mendukung aktivitas ekonomi, pertumbuhan diperkirakan akan sedikit melambat pada tahun ini.
By : Andinny Gorantokan
Komentar
Posting Komentar