Review Film

 Dalam film yang berjudul The New Rules of The World disutradarai oleh John Pilger dengan aktor utama yaitu masyarakat Indonesia. Film ini diproduksi oleh Carlton Television production for ITV first broadcast on ITV1 18 Juli 2001 dengan durasinya 54 menit 23 detik. Direktur dari film ini yaitu Alan lowery dan diasosiatif produser oleh Chris Martin dan Laurelle Keough. Film ini di subtitle bahasa Indonesia oleh kerjasama Institut for Global Justice atau IGJ dan INFID untuk upaya sosialisasi publik dalam mengkritisi globalisasi dan dampaknya terhadap Indonesia. Film ini diproduksi tahun 2002 dengan Song distributed by Little Studios.

Isi atau substansi film ini, menceritakan tentang penguasa baru dunia khususnya pengaruhnya bagi sebuah negara yaitu Indonesia. Negara Indonesia yang dulunya kaya akan sumber daya alam tetapi, karena dijajah berubah menjadi negara pengemis dikarenakan tidak adanya karakter pada Elite. Yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Perbedaan kehidupan kaya dan miskin di Indonesia sangat jelas terlihat. Adanya diskriminasi dalam pekerjaan, contohnya dalam perusahaan GAP yang dipimpin oleh orang amerika. Mereka memperlakukan pekerja buruhnya semena mena. Yang mengherankan bahwa dalam sebuah negara seharusnya mempunyai kode etik yang berlaku bagi sebuah perusahaan asing yang memperkerjakan masyarakat lokal, tetapi tindakan semena mena tetap terjadi. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan ada rasa takut dari para buruh-buruh murah yang ada di Indonesia sehingga mereka tidak berani untuk berbicara secara langsung, contohnya Dita Sari yang menjadi pemimpin serikat buruh pernah dipenjara dan disiksa.

Asal mula globalisasi di Indonesia sangatlah gelap. Dimulai dengan pembantaian massal yang menghantarkan Soeharto yang disokong oleh negara Barat ke Puncak kekuasaan dengan tujuan membentuk perekonomian Indonesia menjadi model Amerika, guna mempermudah barat menguasai pasar dan buruh murah di Indonesia. Soeharto yang waktu itu menjadi rekan bisnis dengan orang barat tanpa disadari oleh masyarakat Indonesia juga menjadi pembunuh berdarah dingin.

Seiring dengan krisis ekonomi yang terjadi, di Indonesia nyaris terjadi revolusi, akhirnya Soeharto dipaksa mundur karena telah korupsi untuk keluarganya dan kroninya. Di sisi lain, Bank Dunia menyalahgunakan kekuasaannya untuk mementingkan kepentingan pribadi yang seharusnya membantu mengurangi kemiskinan di Indonesia malah menjadi peningkatan kemiskinan di Indonesia. Dengan demikian hutang-hutang yang dipakai oleh Soeharto, kini dibayar oleh masyarakat Indonesia sampai saat ini. Dengan ini, dinyatakan bahwa sistem globalisasi sebetulnya bukan membantu tapi hanya menambah kesengsaraan negara yang menyebabkan diskriminasi dan ketidakadilan di masyarakat.

Kelebihan dari film ini berisi wawancara dari para ahli dan juga dari para pekerja buruh murah. Penjelasannya mudah dimengerti karena ada subtitle, filmnya juga menggambarkan kehidupan di zaman dahulu.

Kelemahannya film ini, subtitle-nya tidak lengkap atau tidak semua kalimat ada subtitle-nya. Selain itu film ini masih menggunakan konsep film dokumenter zaman dulu.

Kontribusi film terhadap studi hubungan internasional adalah film ini secara tidak langsung sudah memberikan wawasan yang jelas terhadap sejarah Indonesia mengenai pertumbuhan ekonomi serta masuknya globalisasi ke dalam Indonesia. Selain itu film ini dapat menjadi pembaharuan pola pikir masyarakat Indonesia mengenai Sistem ekonomi globalisasi sesungguhnya dalam mensejahterakan rakyatnya.


By : Andinny Gorantokan

Komentar

Postingan Populer