Tradisi Sebagai Bentuk Nyata Bhinneka Tunggal Ika
Seperti yang kita ketahui bahwa, Indonesia merupakan negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang dipisahkan oleh laut. Dari ujung Sabang sampai Merauke disatukan dalam bentuk NKRI dan dikuatkan dalam nilai-nilai Pancasila. Dikarenakan setiap pulau atau suku bangsa memiliki tradisi atau kebudayaannya masing-masing, sehingga munculah semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" yang berarti "berbeda-beda tetapi tetap satu". Hal inilah yang membuat bangsa Indonesia tetap bertahan teguh dalam NKRI.
Salah satu contoh mengenai Bhinneka Tunggal Ika yaitu, tradisi yang terdapat di setiap suku-suku bangsa di Indonesia seperti, tradisi "rebah" dari Bajawa, NTT, tradisi "Ziarah Santa Ana" dari Larantuka, NTT, upacara "Ngaben" dari Bali, upacara "Rambu Solo" dari Toraja, dan masih banyak lagi.
Di NTT, khususnya Larantuka mempunyai tradisi keagamaan yaitu Ziarah Santa Ana. Perlu diketahui, tradisi ini sudah ada sejak dulu dan terkhususkan untuk warga Larantuka yang beragama Katolik. Meskipun demikian, masyarakat Larantuka yang non-Katolik berpartisipasi langsung dalam keamanan demi memperlancar ziarah tersebut. Selain itu, banyak pengunjung dari daerah luar yang ikut dalam ziarah tersebut. Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa tradisi bukan menjadi penghambat melainkan menjadi pemersatu antar umat dan suku bangsa, selain itu juga kita dapat mempelajari tradisi yang ada di setiap suku bangsa di Indonesia.
Dari sekian banyak tradisi di Indonesia, tidak menutup kemungkinan untuk tetap menghargai dan menghormati tradisi masing-masing. Dan kenyataannya, kita sebagai warga Indonesia masih menjunjung hal itu. Harapannya kita tetap berpegang teguh pada Pancasila serta Bhinneka Tunggal Ika.
By : Andinny Gorantokan
Komentar
Posting Komentar